Sunan Ampel Students from Bojonegoro

Sabtu, Agustus 26, 2023

Mawas Diri Sebagai Sumber Pengetahuan Sejati

Pengetahuan sejati yang kemudian dapat menjadikan manusia lebih terbuka ialah dengan mempraktikkan metode mawas diri, gagasan yang selalu disuarakan dalam ilmu Jawa yaitu mawas diri karena orang itu harus diserukan untuk mengolah rasa atau memahami rasa yang ada di dalam diri sendiri dengan benar yang dalam ilmu kawruh jiwa (memahami jiwa) disebut sebagai pengawikan pribadi (pengetahuan diri sendiri) ia dapat berupa apa saja dan memberikan apa saja dan dapat berupa keinginan terhadap apa saja namun dari metode mawas diri atau olah rasa, ini hanya merupakan sarana latihan untuk memilah rasa diri sendiri terhadap rasa orang lain untuk meningkatkan kemampuan dan menghayati rasa dalam diri sendiri dan rasa orang lain sebagai manifestasi guna terciptanya pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia yang bahagia dan sejahtera.

Seseorang akan mencapai kondisi bahagia ketika ia telah sanggup membebaskan dirinya dari nafsunya ataupun dari egonya sendiri yang bersumber dari rasa ingin menang dan rasa semena-mena, perlu diketahui bahwasanya sebuah kebahagiaan itu tidak tergantung pada waktu, tempat, dan keadaan (mboten gumantung wekdal, papan, lan kawontenan). Karena kehidupan kejiwaan kita itu tersusun dari berbagai rasa yang dapat dikatakan banyak macamnya, karena sebuah rasa dalam diri manusia ada yang dangkal dan dalam, pengetahuan manusia terhadap apa saja itu bersumber dari rasa mengamati dan menanggapi serta melakukan tindakan dan hasil dari praktek itu pun sesuai pada proses pemikiran kita, apakah dalam kita menelaah dapat mengamati rasa itu sesuai dengan rasio ataupun semena-mena.

Orang yang selalu diiringi rasa yang dinamis dan dapat merangsang rasa dalam dirinya dengan berbagai respon ketenangan maka ia akan menjalani kehidupannya dengan damai, sejatinya dalam ilmu Jawa dikenal ada istilah “Mulur Mungkret” menyadari bahwa dalam kehidupan pasti adanya kebahagiaan dan pasti kita juga akan menemui kesusahan, orang yang mengerti keadaan seperti ini mengenalnya dengan sebutan “langgeng bungah-susah” (senang susah yang silih berganti). Orang yang sudah mencapai proses pemikiran seperti ini dapat mengarahkan respon akalnya untuk menyikapi sebuah perbedaan atau posisi setiap manusia memang berbeda beda, akan selalu menempatkan kedamaian fikirannya, gagasan yang dicatat ialah sebuah gagasan Bahagia yang ditanamkan dari dalam dirinya sendiri. Orang yang sudah mencapai level kesadaran pada tahap ini, ia tau bahwa adanya perselisihan antar pihak itu terjadi karena ada salah satu pihak yang menanggapi sebuah kejadian sesuai apa yang ia fikirkan (dengan pemikiran yang buruk) lalu timbul respon berupa konflik. Maka orang yang sudah menyadari akan hal ini, ia akan merespon situasi ini dengan gagasan yang membatasi dirinya dari kebencian, ia enggan terbelenggu oleh gagasan yang menjerumuskannya pada konflik, maka kesadaran akan rasional inilah yang menjadikan orang selalu merasa damai.

Salah satu contoh bahwa mawas diri merupakan salah satu metode untuk menimbulkan sikap moderat, dan untuk mewujudkan sikap toleransi itu dapat diwujudkan dengan contoh yang ada pada masa lalu, seperti pada masa penyebaran agama islam zaman walisongo, dimana pada waktu itu merupakan perjuangan yang sangat berat, karena perbedaan kultur agama yang jelas bersebrangan antara Idlam dengan Hindu, sapi adalah hewan yang sangat dihormati oleh umat hindu, menyembelihnya ataupun memakan daginya pun menjadi pantangan, sedangkan dalam Islam, menyembelih sapi dianjurkan dalam hari raya idul adha, ternilai sebagai ibadah. Jika kejadian seperti ini tidak disikapi dengan hati yang dingin, pasti akan menimbulkan kegaduhan dan perselisihan antar umat beragama, namun dengan adanya metode mawas diri dalam merespon hal seperti ini, maka setiap orang pasti akan menemukan dimana sela untuk saling menghargai.

Ajaran yang disebarkan dengan simpatik, maka itu akan membuat masyarakat akan merasakan keterbukaan dan sifat agama yang damai, tidak keras. Sebab itulah pada masa penyebaran agama Islam melalui walisongo selalu mengedepakan aspek budaya sekitar, guna pendekatan pada masyarakat, bahwa agama itu Rahmat uuntuk semua manusia, bukan hanya harus sesuai apa yang dibawakan dari Arab, bukan hanya tentang Bahasa Arab saja, sesuatu yang di bawa dengan ramah pasti akan mewujudkan output yang indah pula, seperti keberagaman bersosial budaya maupun agama. Semua manusia memang berbeda, setiap orang memang tidak semua berasal dari daerah yang sama, pasti terdapat perbedaan yang ada antara satu dengan yang lainnya, jika memang agama berbeda beda, tetaplah menjalankan ibadahnya masing-masing, kita dapat bersatu atas dasar kemanusiaan, itulah yang dapat mempersatukan kita diatas segala perbedaan. Dengan itu, maka sikap moderat dalam bersosial maupun beragama sangatlah dianjurkan kepada seluruh manusia.


Penulis : Bagus Aji Nusantara (Divisi Keagamaan)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Mawas Diri Sebagai Sumber Pengetahuan Sejati

0 komentar:

Posting Komentar