Aku duduk sendiri di tepi pantai, menatap ombak yang menghantam karang dengan ganasnya. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahku, membawa aroma laut yang segar. Pikiranku melayang ke masa lalu, saat-saat bahagia yang pernah kualami di tempat ini.
Aku teringat saat kau dan aku berjalan di sepanjang pantai ini, tangan kita saling terikat, bahagia dalam kebersamaan. Kau memandangiku dengan tatapan penuh cinta, dan aku tahu saat itu bahwa kau adalah segalanya bagiku.
Namun, takdir berkata lain. Suatu hari, kau tiba-tiba pergi, tanpa peringatan apa pun. Aku terkejut dan terluka, mencari keberadaanmu dalam hampa. Aku mencoba menghubungimu, tetapi tidak ada jawaban. Hanya sunyi yang menyertainya.
Aku berusaha memperbaiki hatiku yang hancur, merangkai kembali potongan-potongan yang tersisa. Namun, ada satu bagian yang tak dapat aku perbaiki: kehilanganmu. Rindu yang tak pernah hilang, kekosongan dalam diriku yang tak bisa diisi.
Dan sekarang, di sini aku duduk, mencoba memahami alasan mengapa kau pergi. Mengapa kau membiarkanku terombang-ambing dalam ketidakpastian dan rasa sakit? Hati ini masih berdarah, tetapi aku belajar untuk menerimanya.
Perlahan, aku menyadari bahwa hidup terus berjalan. Kau mungkin telah pergi, tetapi aku harus melanjutkan perjalanan ini. Aku mulai mengumpulkan kepingan-kepingan hatiku yang tersisa dan menggenggamnya erat-erat. Aku belajar mencintai diriku sendiri, menciptakan kebahagiaan tanpa bergantung pada orang lain.
Dan sekarang, di sini aku duduk di tepi pantai, memandangi ombak yang tak henti-hentinya datang dan pergi. Aku melepaskan angin laut yang sejuk, merasakan kekuatan di dalam diriku. Kau pergi, tapi aku tetap tegar, dan aku akan selalu bahagia.
Penulis : Shofina & Anissa (Divisi Huminfo)
.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar