Waktu itu sepertinya hujan pada pukul 5 sore,
hawa dingin menembus tulangku. Meskipun Ibu berulang kali menyuruhku untuk
masuk, tapi aku masih tetap diam di tempatku. Orang yang kutunggu masih belum
datang, padahal katanya dia akan datang lebih awal. Karena udara yang dingin,
entah sudah berapa kali aku bersin, membuat Ibuku semakin khawatir.
15 menit berlalu, hanya suara air yang terus
berjatuhan. “Ini sia-sia!” pikirku sambil berjalan kembali masuk ke
rumah. Saat lampu motor bergerak masuk ke halaman rumah dan mengagetkanku. Dan
selanjutnya yang kuingat adalah kita merayakan ulang tahunku yang ke-delapan
dengan perasaan bahagia.
Lalu hari-hari pun berubah menjadi minggu,
minggu berubah menjadi bulan, bulan berubah menjadi tahun. 2 tahun berlalu
sejak kejadian itu, tapi aku masih tidak berubah. Aku masih merasa seperti anak
kecil yang menginginkan hadiah dan kue pada ulang tahunnya. Aku masih tetap
Lily yang naif, tapi orangtuaku tidak masalah dengan itu. Jadilah pada ulang
tahun ke-10, aku merayakan ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dan tanpa kusadari, aku telah menjadi seseorang
yang berumur 13 tahun, menukar masa kecilku untuk masa depan yang tidak
kuketahui, seperti orang lain. Memahami segala sesuatu yang tidak pernah kupahami,
merasakan sesuatu yang tidak kuharapkan, menyadari bahwa hidup bukanlah kisah
klasik ataupun dongeng yang selalu kubaca sebelum tidur. Mungkin, segala
sesuatu yang kukira tidak akan berubah, lambat laun akan berubah. Pada ulang
tahun ke-13, hidup akhirnya memberiku kado pertamanya, sebuah kesempatan untuk
membentuk diri.
Saat ini, umur 14 tahunku, saat aku duduk di
ayunan tua ini. Membiarkan diriku diayun dan terbang. Hidupku memang tidak
lebih baik dari tahun kemarin, tapi aku bisa melihat kehidupan dari sudut
pandang yang berbeda. Lilin kehidupan dan harapan yang dulu kupaksa untuk
redup, perlahan kunyalakan kembali. Hidup memang tidak seperti kisah klasik
ataupun dongeng, tapi kita bisa menulis hidup dengan bintang dan impian,
seperti yang dulu selalu kita impikan. Seperti yang dulu selalu aku impikan.
Mungkin terlalu awal bagiku untuk mengatakannya,
tapi selamat menjadi dewasa, untuk anak kecil yang menolak menjadi dewasa
Nama : Reigina Dwi
Rahmawati
Prodi : Manajemen
0 komentar:
Posting Komentar