Makanan apa yang Anda santap siang ini? Nasi
goreng, mie ayam, sate ayam atau bakso? Katanya sih apapun makanannya minumnya
Teh Botol Sosro. Apa benar begitu? Boleh dibilang sebagian besar kita yang
hidup di Indonesia kemungkinan pernah meminum teh yang dikemas dalam botol
beling bening dengan cap logo berwarna putih ini. Salah satu minuman yang
sering kita pilih ketika kehausan meski kenyataannya tidak menghilangkan haus.
Kini kita bisa menemukannya tak hanya di
setiap kotak es pedagang minuman, namun juga di lemari es supermarket dengan
bentuk botol plastik atau kemasan kotaknya. Minuman ini dijajakan oleh pedagang
minuman Pasar Turi di Surabaya hingga pedagang di jalan Malioboro di Jogja, kok
bisa seonggok botol berisi teh yang katanya tanpa pengawet itu ada di hampir
seluruh kepulauan Nusantara dan dikonsumsi oleh segenap penduduknya? Ada sihir
apa sampai ia bisa travelling keliling Indonesia?
Untuk menjawabnya kita mesti mengenal
lebih dekat dengan Teh Botol, bukan mengenal sejarah perusahaan atau para
pendirinya ya, itu sih biasanya untuk pelatihan pekerja yang baru diterima
kerja. Tapi kita akan menggunakan metode materialisme dialektis dan historis
yang khas dengan pendekatan Marxian. Oleh karena itu kita akan meminjam
konsep-konsep yang dipaparkan oleh Marx melalui tulisannya Das Kapital Volume 1
Bagian 1 tentang komoditas.
Dalam Bab 1 yang membahas tentang
komoditas dijelaskan bahwa komoditas merupakan hal ihwal atau benda yang bisa
dipergunakan dan diperjualbelikan. Namun tak semua komoditas adalah barang dan
tak semua barang adalah komoditas. Maksudnya yaitu ada ihwal tak berbentuk
barang namun bisa dikategorikan sebagai komoditas, contohnya yaitu tenaga-kerja
yang dalam relasi tertentu pada masyarakat kapitalisme menjadi komoditas.
Sedangkan ada benda-benda atau barang yang tidak dapat dikategorikan sebagai
komoditas, misalnya oksigen yang hari ini kita hirup atau cokelat Silver Queen
yang saya berikan ke ibu saya sebagai hadiah ketika Hari Valentine.
Baik kalau begitu apakah sebotol Teh
Botol dapat dikategorikan sebagai komoditas? Mari kita telusuri, apakah ia
dapat kita nikmati kegunaannya secara kualitas dan fisik, seperti waktu kita
minum saat berbuka puasa? Tentu saja. Lalu apakah ia dapat kita tukarkan dengan
sebotol S-tee atau Pulpy? Bisa-bisa saja. Dengan demikian sebotol Teh Botol
tersebut memiliki apa yang dinamakan dengan Nilai-Guna dan Nilai-Tukar.
Apakah itu Nilai-Guna dan Nilai-Tukar?
Nilai-Guna adalah kapasitas sebuah benda untuk dikonsumsi serta dipergunakan
kualitas fisiknya untuk kebutuhan manusia. Sedangkan Nilai-Tukar merupakan
kapasitas sebuah benda atau hal ihwal untuk ditukarkan dengan benda atau hal
ihwal lainnya. Nilai-Guna diukur berdasarkan kualitas bendanya, sedangkan
Nilai-Tukar diukur berdasarkan kuantitasnya. Misalkan satu botol Teh Botol (A)
dapat ditukarkan dengan dua gelas Granita (B). Pertanyaannya, bagaimanakah komoditas
A setara dengan 2 komoditas B?
Jawabannya ialah karena kedua komoditas,
A dan B, memiliki unsur bersama yang membuat mereka dapat sepadan untuk
dipertukarkan, unsur tersebut tak lain adalah nilai yang menubuh di dalam keduanya.
Nilai ada di dalam komoditas namun menampak sebagai Nilai-Tukar ketika suatu
komoditas dipertukarkan dengan komoditas lainnya. Oleh karena itu Nilai-Tukar
hanya merupakan penampakan atau pantulan dari nilai yang mana merupakan unsur penting
yang sudah menubuh di dalam komoditas. Di sinilah kiranya metode berpikir
materialisme dialektis Marx sangat kentara. Kini yang menjadi pertanyaan, seperti apa dan dari
manakah datangnya nilai?
Marx menjawabnya dari kerja. Kerja
siapa? Tentu saja kerja manusia di bumi. Lalu kerja manusia yang seperti apa?
Tentu saja ada pembagian kerja-kerja terspesifik yang sudah ada di sepanjang
sejarah. Misalnya kerja tukang sepatu ialah membuat sepatu, kerja tukang jahit
membuat pakaian dan kerja akuntan yaitu membuat laporan keuangan. Kerja-kerja
secara kualitatif yang heterogen ini disebut dengan Kerja-Konkrit. Kerja ini
menciptakan Nilai-Guna dari sebuah benda, misalnya sepatu untuk dipakai jalan-jalan,
pakaian untuk dipamerkan di fashion show dan laporan keuangan untuk
kebijakan perusahaan.
Namun jika tukang sepatu dengan
Kerja-Konkritnya membuat sepatu untuk dirinya sendiri maka benda tersebut bukan
sebuah komoditas, sama ketika tukang sepatu memberi sepatu sebagai hadiah ulang
tahun kepada anaknya, benda itu menjadi kado. Lain cerita apabila sepasang
sepatu tersebut ditukarkan dengan satu celana Levi’s atau ditaruh di etalase
toko dan diberikan harga. Maka sepatu tersebut merupakan komoditas karena
selain memiliki Nilai-Guna, ia memiliki Nilai-Tukar dan Nilai itu sendiri.
Jika Kerja-Konkrit menciptakan
Nilai-Guna, maka nilai
dan Nilai-Tukar datangnya dari kerja yang lain, yaitu Kerja-Abstrak. Ini adalah
kumpulan kerja-kerja konkrit keseluruhan yang diukur secara kuantitatif dari
lama waktu kerjanya. Maka dari sinilah kita dapat mengukur besaran Nilai dari
suatu komoditas, yaitu dari durasi kerja dan durasi kerja tersebut diukur
berdasarkan skala waktu spesifik di dalam suatu masyarakat. Lantas apakah
dengan lebih lamanya pembuatan komoditas, maka Nilai komoditasnya semakin
besar? Jawabnya tidak karena di dalam masyarakat ada waktu kerja secara sosial.
Sebagai contoh dalam masyarakat yang
didominasi produsen kain tenun dengan Alat Tenun Mesin (ATM) dapat membuat tiga buah
kain tenun dalam satu jam. Sedangkan ada satu produsen yang menggunakan Alat
Tenun Bukan Mesin (ATBM) memproduksi satu kain dalam satu jam. Nilai-nya tetap
sama dan mengikuti alat tenun mesin yang dominan di masyarakat tersebut.
Sehingga kelak ketika selesai diproduksi, tenun hasil ATBM sama Nilai-Gunanya
dengan tenun hasil ATM, karena sama-sama sebagai bahan dasar untuk membuat
pakaian. Begitu juga dengan Nilai-Tukar kedua tenun dari dua model produksi
tersebut, kemungkinan harga satu buah tenun hasil ATM lebih murah dua sampai
tiga kali dari tenun hasil ATBM.
Oleh karena itu Waktu Kerja yang diperlukan secara sosial inilah yang
menentukan ukuran dari substansi nilai. Namun besar kecilnya pun kembali
bergantung kepada beberapa faktor yang ada di dalam kondisi masyarakat, Marx
menyebutkan faktor yang menentukannya: Pertama yaitu tingkat rata-rata keahlian
pekerja, kedua merupakan tingkat perkembangan sains dan penerapan teknologi,
ketiga adalah perkembangan organisasi dan proses produksinya, keempat yaitu
keluasan dan ketepatgunaan sarana produksi dan yang kelima adalah kondisi alamiah
di suatu lingkungan tertentu.
Namun pasti sulit bagi kita ketika berjumpa di pasar
menukarkan barang dengan menanyakan berapa waktu kerja secara sosial yang
terkandung dalam barang tersebut. Oleh karena itu ia seringkali diwakilkan oleh
komoditas yang berwujud uang. Di sinilah dijelaskan bentuk nilai yang biasanya
digambarkan dengan x komoditas A = y komoditas B atau x komoditas A bernilai dengan
y komoditas B. Misalnya 5 meter
kain= 1 jaket atau 5 meter
kain senilai dengan 1 jaket. Maka dalam perkembangannya bentuk nilai memiliki
dua ekspresinya yaitu bentuk relatif dan bentuk ekuivalen, bagian pertama
merupakan bentuk relatif sedangkan bagian keduanya bentuk ekuivalen. Bentuk
ekuivalen inilah yang kelak menjadi uang.
Dengan demikian sementara ini kita bisa
mengambil kesimpulan bahwa pertama sebotol Teh Botol tidak mengada dengan
begitu saja. Ia memerlukan serangkaian proses produksi material dengan
relasi-relasi yang beragam dalam masyarakat manusia yang eksis hari ini. Adanya
botol dan teh tentu saja tidak memerlukan adanya kapitalisme, karena keduanya
sudah hadir di acara-acara minum teh para Shogun dan Daimyo zaman Edo, bahkan
di ruangan kaisar serta permaisuri Dinasti Ming yang mana merupakan masa-masa ketika kapitalisme belum
mendominasi perekonomian dunia. Namun untuk adanya sebotol Teh Botol tentu saja
disyaratkan oleh bentuk masyarakat kapitalisme.
Kedua, ada realitas riil yang hadir di
balik realitas empiris yang menampak di mata kita. Teh Botol sebagai salah satu
contoh dari wujud komoditas memiliki Nilai-Guna yang dapat kita minum saat
kepanasan macet di Ibukota. Ia juga memiliki Nilai-Tukar untuk ditukarkan
dengan Pulpy atau Fanta. Namun seringnya kita tukarkan sebotol Teh Botol
tersebut dengan mata uang senilai Rp 5.000 yang ada di dompet kita. Ia dapat
ditukarkan dengan komoditas lainnya karena ia memiliki satu unsur yang sama di
antara mereka yaitu Nilai. Nilai tidak dikondisikan oleh pertukaran, namun
sudah menubuh di dalam komoditas.
Ini membawa kita kepada kesimpulan
ketiga bahwa nilai
hadir dari kerja manusia. Keragaman wujud komoditas seperti sebotol Teh Botol,
sepatu Nike, jaket Fila, mobil Tesla dan smartphone Xiaomi dikondisikan oleh
kerja yang dinamakan Kerja-Konkrit. Ini juga membuktikan bahwa ada beragam
pembagian kerja dalam masyarakat kapitalisme, meski adanya pembagian kerja
tidaklah identik dengan kapitalisme sebab pembagian kerja sudah ada sejak masa
prasejarah. Selain Kerja-Konkrit terdapat pula Kerja-Abstrak yang mana
merupakan kumpulan-kumpulan kerja yang diukur dari durasinya. Inilah yang
besarannya masuk ke dalam komoditas dan menentukan besaran nilai yang menubuh di
dalam sebuah komoditas.
Ada kerja dari akuntan, buruh, pengemudi
logistik, pemasaran dan lain-lain di balik sebotol Teh Botol. Inilah realita dalam
masyarakat kita hari ini yang jarang sekali disadari oleh manusia. Seakan
benda-benda muncul dengan sendirinya bagaikan suatu mahkluk biologis yang dapat
melahirkan serta memiliki emosi. Inilah yang disebut oleh Marx sebagai
fetisisme komoditas yang menggejala di masyarakat kapitalisme. Padahal nyatanya
kerja manusialah yang menentukan keberadaan mereka, sebab ada nilai yang mana berasal
dari kerja manusia di dalam setiap benda-benda tersebut. Hanya kitalah yang
menempatkan moral serta emosi ke dalam benda-benda mati tersebut. Pada akhirnya
kabut-kabut borjuis pun hilang dari pandangan kita para pekerja yang mengenal
sains dan berusaha membuat hidup ini jadi lebih baik.
Baiklah, kiranya pembahasan Bab 1 dari
Das Kapital lebih rumit dari ini, hanya saja saya mengajak Anda semua untuk
mencoba mengenal kata-kata kunci dalam bab ini supaya memudahkan proses membaca
Anda semua. Jadi mulai sekarang kita tidak bisa lagi menyamakan apa yang kita
lihat dengan apa yang sesungguhnya terjadi di balik penglihatan empiris kita.
Dengan mampu membedakan gejala-gejala dan pola-pola maka akan memudahkan kita
dalam memecahkan suatu permasalahan. Khususnya permasalahan praktis di dunia
kapitalisme hari ini.
Sebab apapun makanannya minumnya belum tentu
Teh Botol Sosro, bisa saja es teh manis, es jeruk, es kopyor dan lain-lain.
Namun satu yang pasti setelah makan kita mesti minum dan minuman yang kita
pilih tentu bisa apa saja selain Teh Botol. Layaknya yang terjadi di kenyataan
di dunia hari ini, kita tahu bahwa sosialismelah jalan untuk membebaskan kita
dari kapitalisme, namun bagaimana caranya? Tentu saja mesti kita temukan lewat
belajar.
Oleh: Abdul Kharis Anshori
0 komentar:
Posting Komentar