Sunan Ampel Students from Bojonegoro

Minggu, April 03, 2022

Marxisme dan Teh Botol

 



Makanan apa yang Anda santap siang ini? Nasi goreng, mie ayam, sate ayam atau bakso? Katanya sih apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro. Apa benar begitu? Boleh dibilang sebagian besar kita yang hidup di Indonesia kemungkinan pernah meminum teh yang dikemas dalam botol beling bening dengan cap logo berwarna putih ini. Salah satu minuman yang sering kita pilih ketika kehausan meski kenyataannya tidak menghilangkan haus.

Kini kita bisa menemukannya tak hanya di setiap kotak es pedagang minuman, namun juga di lemari es supermarket dengan bentuk botol plastik atau kemasan kotaknya. Minuman ini dijajakan oleh pedagang minuman Pasar Turi di Surabaya hingga pedagang di jalan Malioboro di Jogja, kok bisa seonggok botol berisi teh yang katanya tanpa pengawet itu ada di hampir seluruh kepulauan Nusantara dan dikonsumsi oleh segenap penduduknya? Ada sihir apa sampai ia bisa travelling keliling Indonesia?

Untuk menjawabnya kita mesti mengenal lebih dekat dengan Teh Botol, bukan mengenal sejarah perusahaan atau para pendirinya ya, itu sih biasanya untuk pelatihan pekerja yang baru diterima kerja. Tapi kita akan menggunakan metode materialisme dialektis dan historis yang khas dengan pendekatan Marxian. Oleh karena itu kita akan meminjam konsep-konsep yang dipaparkan oleh Marx melalui tulisannya Das Kapital Volume 1 Bagian 1 tentang komoditas.

Dalam Bab 1 yang membahas tentang komoditas dijelaskan bahwa komoditas merupakan hal ihwal atau benda yang bisa dipergunakan dan diperjualbelikan. Namun tak semua komoditas adalah barang dan tak semua barang adalah komoditas. Maksudnya yaitu ada ihwal tak berbentuk barang namun bisa dikategorikan sebagai komoditas, contohnya yaitu tenaga-kerja yang dalam relasi tertentu pada masyarakat kapitalisme menjadi komoditas. Sedangkan ada benda-benda atau barang yang tidak dapat dikategorikan sebagai komoditas, misalnya oksigen yang hari ini kita hirup atau cokelat Silver Queen yang saya berikan ke ibu saya sebagai hadiah ketika Hari Valentine.

Baik kalau begitu apakah sebotol Teh Botol dapat dikategorikan sebagai komoditas? Mari kita telusuri, apakah ia dapat kita nikmati kegunaannya secara kualitas dan fisik, seperti waktu kita minum saat berbuka puasa? Tentu saja. Lalu apakah ia dapat kita tukarkan dengan sebotol S-tee atau Pulpy? Bisa-bisa saja. Dengan demikian sebotol Teh Botol tersebut memiliki apa yang dinamakan dengan Nilai-Guna dan Nilai-Tukar.

Apakah itu Nilai-Guna dan Nilai-Tukar? Nilai-Guna adalah kapasitas sebuah benda untuk dikonsumsi serta dipergunakan kualitas fisiknya untuk kebutuhan manusia. Sedangkan Nilai-Tukar merupakan kapasitas sebuah benda atau hal ihwal untuk ditukarkan dengan benda atau hal ihwal lainnya. Nilai-Guna diukur berdasarkan kualitas bendanya, sedangkan Nilai-Tukar diukur berdasarkan kuantitasnya. Misalkan satu botol Teh Botol (A) dapat ditukarkan dengan dua gelas Granita (B). Pertanyaannya, bagaimanakah komoditas A setara dengan 2 komoditas B?

Jawabannya ialah karena kedua komoditas, A dan B, memiliki unsur bersama yang membuat mereka dapat sepadan untuk dipertukarkan, unsur tersebut tak lain adalah nilai yang menubuh di dalam keduanya. Nilai ada di dalam komoditas namun menampak sebagai Nilai-Tukar ketika suatu komoditas dipertukarkan dengan komoditas lainnya. Oleh karena itu Nilai-Tukar hanya merupakan penampakan atau pantulan dari nilai yang mana merupakan unsur penting yang sudah menubuh di dalam komoditas. Di sinilah kiranya metode berpikir materialisme dialektis Marx sangat kentara. Kini yang menjadi pertanyaan, seperti apa dan dari manakah datangnya nilai?

Marx menjawabnya dari kerja. Kerja siapa? Tentu saja kerja manusia di bumi. Lalu kerja manusia yang seperti apa? Tentu saja ada pembagian kerja-kerja terspesifik yang sudah ada di sepanjang sejarah. Misalnya kerja tukang sepatu ialah membuat sepatu, kerja tukang jahit membuat pakaian dan kerja akuntan yaitu membuat laporan keuangan. Kerja-kerja secara kualitatif yang heterogen ini disebut dengan Kerja-Konkrit. Kerja ini menciptakan Nilai-Guna dari sebuah benda, misalnya sepatu untuk dipakai jalan-jalan, pakaian untuk dipamerkan di fashion show dan laporan keuangan untuk kebijakan perusahaan.

Namun jika tukang sepatu dengan Kerja-Konkritnya membuat sepatu untuk dirinya sendiri maka benda tersebut bukan sebuah komoditas, sama ketika tukang sepatu memberi sepatu sebagai hadiah ulang tahun kepada anaknya, benda itu menjadi kado. Lain cerita apabila sepasang sepatu tersebut ditukarkan dengan satu celana Levi’s atau ditaruh di etalase toko dan diberikan harga. Maka sepatu tersebut merupakan komoditas karena selain memiliki Nilai-Guna, ia memiliki Nilai-Tukar dan Nilai itu sendiri.

Jika Kerja-Konkrit menciptakan Nilai-Guna, maka nilai dan Nilai-Tukar datangnya dari kerja yang lain, yaitu Kerja-Abstrak. Ini adalah kumpulan kerja-kerja konkrit keseluruhan yang diukur secara kuantitatif dari lama waktu kerjanya. Maka dari sinilah kita dapat mengukur besaran Nilai dari suatu komoditas, yaitu dari durasi kerja dan durasi kerja tersebut diukur berdasarkan skala waktu spesifik di dalam suatu masyarakat. Lantas apakah dengan lebih lamanya pembuatan komoditas, maka Nilai komoditasnya semakin besar? Jawabnya tidak karena di dalam masyarakat ada waktu kerja secara sosial.

Sebagai contoh dalam masyarakat yang didominasi produsen kain tenun dengan Alat Tenun Mesin (ATM) dapat membuat tiga buah kain tenun dalam satu jam. Sedangkan ada satu produsen yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) memproduksi satu kain dalam satu jam. Nilai-nya tetap sama dan mengikuti alat tenun mesin yang dominan di masyarakat tersebut. Sehingga kelak ketika selesai diproduksi, tenun hasil ATBM sama Nilai-Gunanya dengan tenun hasil ATM, karena sama-sama sebagai bahan dasar untuk membuat pakaian. Begitu juga dengan Nilai-Tukar kedua tenun dari dua model produksi tersebut, kemungkinan harga satu buah tenun hasil ATM lebih murah dua sampai tiga kali dari tenun hasil ATBM.

Oleh karena itu Waktu Kerja yang diperlukan secara sosial inilah yang menentukan ukuran dari substansi nilai. Namun besar kecilnya pun kembali bergantung kepada beberapa faktor yang ada di dalam kondisi masyarakat, Marx menyebutkan faktor yang menentukannya: Pertama yaitu tingkat rata-rata keahlian pekerja, kedua merupakan tingkat perkembangan sains dan penerapan teknologi, ketiga adalah perkembangan organisasi dan proses produksinya, keempat yaitu keluasan dan ketepatgunaan sarana produksi dan yang kelima adalah kondisi alamiah di suatu lingkungan tertentu.

Namun pasti sulit bagi kita ketika berjumpa di pasar menukarkan barang dengan menanyakan berapa waktu kerja secara sosial yang terkandung dalam barang tersebut. Oleh karena itu ia seringkali diwakilkan oleh komoditas yang berwujud uang. Di sinilah dijelaskan bentuk nilai yang biasanya digambarkan dengan x komoditas A = y komoditas B atau x komoditas A bernilai dengan y komoditas B. Misalnya 5 meter kain= 1 jaket atau 5 meter kain senilai dengan 1 jaket. Maka dalam perkembangannya bentuk nilai memiliki dua ekspresinya yaitu bentuk relatif dan bentuk ekuivalen, bagian pertama merupakan bentuk relatif sedangkan bagian keduanya bentuk ekuivalen. Bentuk ekuivalen inilah yang kelak menjadi uang.

Dengan demikian sementara ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pertama sebotol Teh Botol tidak mengada dengan begitu saja. Ia memerlukan serangkaian proses produksi material dengan relasi-relasi yang beragam dalam masyarakat manusia yang eksis hari ini. Adanya botol dan teh tentu saja tidak memerlukan adanya kapitalisme, karena keduanya sudah hadir di acara-acara minum teh para Shogun dan Daimyo zaman Edo, bahkan di ruangan kaisar serta permaisuri Dinasti Ming yang mana merupakan masa-masa ketika kapitalisme belum mendominasi perekonomian dunia. Namun untuk adanya sebotol Teh Botol tentu saja disyaratkan oleh bentuk masyarakat kapitalisme.

Kedua, ada realitas riil yang hadir di balik realitas empiris yang menampak di mata kita. Teh Botol sebagai salah satu contoh dari wujud komoditas memiliki Nilai-Guna yang dapat kita minum saat kepanasan macet di Ibukota. Ia juga memiliki Nilai-Tukar untuk ditukarkan dengan Pulpy atau Fanta. Namun seringnya kita tukarkan sebotol Teh Botol tersebut dengan mata uang senilai Rp 5.000 yang ada di dompet kita. Ia dapat ditukarkan dengan komoditas lainnya karena ia memiliki satu unsur yang sama di antara mereka yaitu Nilai. Nilai tidak dikondisikan oleh pertukaran, namun sudah menubuh di dalam komoditas.

Ini membawa kita kepada kesimpulan ketiga bahwa nilai hadir dari kerja manusia. Keragaman wujud komoditas seperti sebotol Teh Botol, sepatu Nike, jaket Fila, mobil Tesla dan smartphone Xiaomi dikondisikan oleh kerja yang dinamakan Kerja-Konkrit. Ini juga membuktikan bahwa ada beragam pembagian kerja dalam masyarakat kapitalisme, meski adanya pembagian kerja tidaklah identik dengan kapitalisme sebab pembagian kerja sudah ada sejak masa prasejarah. Selain Kerja-Konkrit terdapat pula Kerja-Abstrak yang mana merupakan kumpulan-kumpulan kerja yang diukur dari durasinya. Inilah yang besarannya masuk ke dalam komoditas dan menentukan besaran nilai yang menubuh di dalam sebuah komoditas.

Ada kerja dari akuntan, buruh, pengemudi logistik, pemasaran dan lain-lain di balik sebotol Teh Botol. Inilah realita dalam masyarakat kita hari ini yang jarang sekali disadari oleh manusia. Seakan benda-benda muncul dengan sendirinya bagaikan suatu mahkluk biologis yang dapat melahirkan serta memiliki emosi. Inilah yang disebut oleh Marx sebagai fetisisme komoditas yang menggejala di masyarakat kapitalisme. Padahal nyatanya kerja manusialah yang menentukan keberadaan mereka, sebab ada nilai yang mana berasal dari kerja manusia di dalam setiap benda-benda tersebut. Hanya kitalah yang menempatkan moral serta emosi ke dalam benda-benda mati tersebut. Pada akhirnya kabut-kabut borjuis pun hilang dari pandangan kita para pekerja yang mengenal sains dan berusaha membuat hidup ini jadi lebih baik.

Baiklah, kiranya pembahasan Bab 1 dari Das Kapital lebih rumit dari ini, hanya saja saya mengajak Anda semua untuk mencoba mengenal kata-kata kunci dalam bab ini supaya memudahkan proses membaca Anda semua. Jadi mulai sekarang kita tidak bisa lagi menyamakan apa yang kita lihat dengan apa yang sesungguhnya terjadi di balik penglihatan empiris kita. Dengan mampu membedakan gejala-gejala dan pola-pola maka akan memudahkan kita dalam memecahkan suatu permasalahan. Khususnya permasalahan praktis di dunia kapitalisme hari ini.

 Sebab apapun makanannya minumnya belum tentu Teh Botol Sosro, bisa saja es teh manis, es jeruk, es kopyor dan lain-lain. Namun satu yang pasti setelah makan kita mesti minum dan minuman yang kita pilih tentu bisa apa saja selain Teh Botol. Layaknya yang terjadi di kenyataan di dunia hari ini, kita tahu bahwa sosialismelah jalan untuk membebaskan kita dari kapitalisme, namun bagaimana caranya? Tentu saja mesti kita temukan lewat belajar.

 

Oleh: Abdul Kharis Anshori

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Marxisme dan Teh Botol

0 komentar:

Posting Komentar