Sunan Ampel Students from Bojonegoro

Minggu, April 04, 2021

Sholat Khusyu' ditinjau dari Teori Kepribadian Sigmund Freud

Karya : Iva Choirunnisa
Prodi : Tasawuf dan Psikoterapi
Angkatan : 18

Sholat ibadah yang sudah dilakukan umat Islam sejak ribuan tahun yang lalu, namun ternyata, masih sangat banyak umat Islam yang belum melaksanakan sholat dengan baik dan benar. Sholat seringkali dilakukan hanya sekedarnya saja bahkan saat sholat pun, seringkali dilakukan dengan tidak khusyu sehingga menurunkan kualitas sholat itu sendiri, padahal sholat adalah ibadah yang berisi komunikasi antara seorang hamba dengan tuhannya.

 Di samping itu, ada banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi khusyuknya sholat salah satunya adalah kepribadian manusia.

 Kepribadian berpengaruh terhadap khusyuknya sholat, menurut Sigmund Freud dalam teori kepribadian manusia nya, terdapat 3 komponen yaitu Id, ego, dan superego. Id adalah suatu kata yang sangat dominan dikenal dengan prinsip kesenangan (Pleasure Principle) karena selalu berusaha meredam ketegangan dengan kepuasan. Menurut psikologi Islam, Id dapat disebut juga dengan nafs (nafsu) ego (aql/akal), superego (qalb), 

Ketika ego dan superego manusia tidak dapat mengendalikan dorongan untuk makan dari id, manusia cenderung akan makan semua yang disukainya tanpa batasan, akibatnya akan merasa kenyang.

Dikutip dari laman alodoc.com, Setelah makan, darah akan mengalami perubahan aliran dimana setelah makan, aliran darah akan lebih banyak dialihkan ke saluran pencernaan agar tubuh dapat mengolah dan menyerap energi serta nutrisi dari makanan atau minuman yang dikonsumsi. Hal ini secara ilmiah menjelaskan mengapa Rasulullah menganjurkan kita untuk makan sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.

Dalam upaya pengendalian nafsu yang mengakibatkan buruknya kepribadian manusia, kita dapat mengendalikannya dengan akal. Pentingnya akal bagi manusia dijelaskan sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Baihaqi dan al-Hakim al-Tirmidzi, sebagai berikut:

“Dari ‘Aisyah RA, ‘Wahai Rasulullah dengan apa manusia diunggulkan antara satu dengan yang lainnya ketika di dunia? “dengan akal”, jawab Rasul saw. Kemudian ‘Aisyah kembali bertanya: dan di akhirat? “dengan akal”, jawab Rasul saw kembali. “Bukankah mereka akan dibalas sesuai dengan akal mereka?” Tanya ‘Aisyah dalam keraguan. Kemudian Rasul meyakinkannya dan mengatakan: “Dan bukankah manusia beramal sesuai dengan kemampuan akal mereka yang dikaruniai oleh Allah kepada mereka? Pada tingkat mana akal mereka di sana perbuatan mereka berada, dan dari sanalah mereka dibalas.” (HR. al-Hakim al-Tirmidzi)

Akal yang merupakan produk otak, akan sulit untuk aktif ketika aliran darah dalam otak kurang. Maka dari itu, perlunya bagi kita untuk mengendalikan ID dari segi dorongan untuk makan agar kita senantiasa memiliki akal yang lebih jernih demi memiliki kepribadian yang baik, dimana hal tersebut berpengaruh terhadap sholat khusyu itu sendiri. Ketika kita tidak dapat mengendalikan porsi makan, kita akan merasa ngantuk dan malas sehingga sulit mencapai khusyu dalam solat.

Referensi : http://www.nurulfajri.sch.id/m/Artikel/Artikel-Guru/Antara-Akal-Sehat-dan-Nafsu.html
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://jurnal.stiq-amuntai.ac.id/index.php/al-qalam/article/download/3/3&ved=2ahUKEwjy_Lm6q8nvAhVJ7XMBHfTRC3sQFjAnegQIHRAC&usg=AOvVaw0YhtRaiZXfMQam4NmipOJM
http://www.alodokter.com/habis-makan-ngantuk-ternyata-ini-penyebabnya
http://ejournal.kopertais4.or.id/sasambo/index.php/munawwarah/article/view/3290

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sholat Khusyu' ditinjau dari Teori Kepribadian Sigmund Freud

0 komentar:

Posting Komentar