Sunan Ampel Students from Bojonegoro

Selasa, Maret 30, 2021

Sejarah Hari Bipolar & Stigmatisasi Penderita Bipolar

Oleh : Iva Choirunnisa
Prodi : Tasawuf dan Psikoterapi
Angkatan : 18

Bulan Maret tepatnya setiap tanggal 30 diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia. Tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal lahirnya Vincent van Gogh, seorang seniman asal Belanda yang tersohor di dunia yang mengidap gangguan bipolar. 

Mengidap gangguan bipolar tidak membuatnya mundur untuk berkarya dalam dunia seni yang melambungkan namanya, malah sebaliknya, Van Gogh memberikan inspirasi kepada banyak orang bagaimana berjuang mengalahkan pergolakan alam perasaannya yang bisa bergulir ke atas dan ke bawah. 

Salah satu tujuan memperingati Hari Bipolar Sedunia adalah dijadikan momen penting memberikan edukasi dan pemahaman lebih jauh kepada masyarakat tentang gangguan bipolar dan diharapkan dapat mengenali gejala lebih awal, memberikan dukungan sehingga mampu mencapai pemulihannya, dan membawa harapan baru bagi orang dengan gangguan bipolar.

Stigma dan diskriminasi orang dengan gangguan bipolar

Penyamaan gangguan bipolar dengan gangguan jiwa yang lazim ada di masyarakat awam adalah mitos karena keduanya amat berbeda. Orang dengan gangguan bipolar memiliki gangguan mood dari tertinggi yaitu manik hingga terendah berupa depresi dan mungkin bisa dialami untuk waktu yang lama. Mitos lain adalah ketidakproduktifan orang dengan gangguan bipolar pada lingkungan kerja. Meskipun ada beberapa orang dengan gangguan ini diberhentikan, namun faktanya lebih dari 75% sukses di tempat kerja.

Mitos-mitos dan misinformasi tentang gangguan bipolar yang ada di masyarakat turut memberikan dan menancapkan stigma dan diskriminasi pada orang dengan gangguan bipolar, terutama yang berada pada lingkungan profesional dan pekerjaan. Seorang pekerja yang memiliki gangguan bipolar setidaknya memiliki jumlah cuti yang lebih banyak sebagai cara untuk menyesuaikan efek samping dari obat dan terapi yang sedang ia lakukan. 

Jika pekerta tersebut merasa sangat terbebani dengan segala tuntutan pekerjaan dan memicu keadaan bipolar mereka, seharusnya bisa ada kebijakan dari pemberi kerja untuk menambah waktu menyelesaikan tugas tersebut. Jika akomodasi seperti itu belum ada, tempat pemberi kerja bisa saja disebut telah memberikan diskriminasi terhadap pekerja dengan gangguan bipolar.

Dalam berbagai serial layar kaca maupun buku, orang dengan gangguan bipolar juga sering diidentikkan dengan orang dengan gangguan kejiwaan meskipun keduanya adalah hal yang berbeda. Mereka juga sering diidentikkan dengan karakter yang berbuat kejahatan atau karakter protagonist dan tidak mampu hidup secara mandiri. 

Yang memperparah adalah stigma dan diskriminasi ini seringkali membuat orang dengan gangguan bipolar sedapat mungkin menyembunyikan kondisi mereka. Mereka akan malu dengan apa yang sedang merasa rasakan. Hasilnya, orang dengan gangguan bipolar tidak menerima penanganan yang tepat tentang gangguan bipolar mereka.

Jika kamu memiliki orang di sekitar yang sedang memiliki gangguan bipolar, jangan jauhi dan berilah lingkungan yang akomodatif bagi mereka. Ajaklah mereka untuk beraktifitas yang menyenangkan. Kadang orang dengan gangguan bipolar tidak menemukan tempat yang tepat untuk menyalurkan energi ketika mereka sedang berlebih. Dengan melakukan aktifitas bersama yang menyenangkan, mereka akan mampu mengeluarkan energi mereka di waktu dan tempat yang tepat. Lalu, beri pujian terhadap mereka. 

Pujian menjadi cara kita menunjukkan bahwa kita menganggap mereka ada. Namun, pujian yang diberikan pun harus sesuai dengan porsinya. Ajak mereka untuk berpikiran positif dan jauhkan mereka dari perasaan negatif bersalah yang membuat mereka tenggelam di dalamnya. Lalu jadikan orang terdekat, khususnya keluarga untuk mengetahui segala macam fakta tentang gangguan bipolar dan menyediakan akomodasi yang tepat dan mendukung orang-orang dengan gangguan bipolar. 

sumber :
https://www.solider.id/baca/5519-diskriminasi-stigma-orang-gangguan-bipolar
http://www.rscarolus.or.id/article/mengenal-lebih-jauh-gangguan-bipolar-bagian-1

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah Hari Bipolar & Stigmatisasi Penderita Bipolar

0 komentar:

Posting Komentar