Sunan Ampel Students from Bojonegoro

Selasa, Maret 30, 2021

Bipolar


Oleh : Iva Choirunnisa
Prodi : Tasawuf dan Psikoterapi
Angkatan : 18

(Peringatan : Gangguan bipolar hanya bisa didiagnosis oleh psikolog dan psikiater ahli, tulisan ini bertujuan sebagai tambahan pengetahuan saja, bukan sebagai dasar diagnosis diri sendiri)

Gangguan bipolar merupakan suatu bentuk gangguan yang terjadi pada kondisi suasana hati yang berubah-ubah secara signifikan dan ekstrem pada penderitanya. Dilansir oleh Ryan dan Jacki (2004) bahwa orang dengan gangguan bipolar mengalami fluktuasi luas dalam suasana hatinya, baik pada suasana hati yang begitu baik atau suasana hati yang begitu buruk pada dirinya. 

Hal tersebut disebabkan karena kondisi suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba - tiba antara kondisi baik atau bahagia (mania) dan buruk atau kesedihan (depresi), dan berada pada tingkat yang berlebihan dari batas kewajaran.

Menurut data dari National Comorbidity
Survey Adolescent Supplement (NCS-A)
prevalensi dari kelompok remaja berusia
13-18 tahun, didapatkan sebanyak 2.9%
remaja mengalami gangguan bipolar, dan 2,6% diantaranya mengalami penurunan fungsi yang berat. Pada data ini juga ditemukan prevalensi gangguan bipolar yang lebih tinggi pada remaja wanita (3.3%) dibandingkan dengan remaja pria (2.6%).

Banyak faktor yang menyebabkan penderita gangguan bipolar mengalami
kondisi tersebut, baik faktor biologis
maupun faktor yang berasal dari lingkungan sekitar yang mempengaruhi kondisi individu dengan gangguan bipolar (Smith, 2011).

 Akan tetapi, genetika memainkan peran yang lebih besar daripada yang mereka lakukan dengan depresi unipolar. Berdasarkan pandangan tersebut, faktor genetika dapat memberikan pengaruh apabila seorang anak lahir dari salah satu atau kedua orang tua yang menderita gangguan bipolar, sehingga anak tersebut memiliki resiko untuk mengalami gangguan yang sama. 

Pada faktor lingkungan, seperti keluarga, dapat menjadi salah satu faktor yang kuat dalam mempengaruhi kondisi individu dengan gangguan bipolar. Cara anggota keluarga dalam mengungkapkan atau mengekspresikan emosi terhadap anggota lain di keluarganya yang menderita gangguan bipolar merupakan suatu faktor interaksi yang dapat menyebabkan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi pada individu dengan gangguan bipolar.

Penanganan dalam penyembuhan gangguan bipolar dapat dilakukan selain
dengan pemberian obat-obatan ataupun
perawatan menggunakan terapi tertentu, dapat pula dilakukan dengan memberikan dukungan sosial dari keluarga. Akan tetapi, gangguan bipolar sering tidak diketahui dan salah diagnosis, bahkan apabila terdiagnosa pun sering tidak terobati dengan adekuat (Evans, 2000; Tohen & Angst, 2002; Toni et.al, 2000).

Diagnosis gangguan bipolar sulit diberikan karena gangguan bipolar bertumpang tindih dengan gangguan psikiatrik yang lain, yaitu skizofrenia dan skizoafektif. Dengan demikian, terapi yang komprehensif diperlukan oleh orang dengan gangguan bipolar untuk mencapai kembali fungsinya semula, yaitu meliputi farmakoterapi dan intervensi psikososial (Amir, 2012; Soetjipto, 2012; Yatham et.al, 2009). 

Intervensi psikososial dibutuhkan oleh orang dengan gangguan bipolar, karena kekambuhan yang terjadi pada penderita bipolar dapat mengganggu fungsi sosial, mengganggu pekerjaan, mengganggu perkawinan bahkan meningkatkan risiko bunuh diri. 

Sumber : https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/6726/pdf 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Bipolar

0 komentar:

Posting Komentar