Sunan Ampel Students from Bojonegoro

Sabtu, Februari 20, 2021

Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional


Oleh : Iva Choirunnisa (FUF/18)

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880–1918) adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dan dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat TAS. 

Tirto Adhi Soerjo menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Poetri Hindia (1908). Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu, dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. 

Tirto Adhi Soerjo juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto Adhi Soerjo diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula. Pada 1973, Pemerintah Indonesia mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada 3 November 2006, Tirto Adhi Soerjo mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006. 

Tirto Adhi Soerjo juga dikenal sebagai tokoh pelopor pergerakan nasional yang sangat cerdas, terutama dalam pengembangan nasionalisme Indonesia. Tirto Adhi Soerjo berpikir bahwa bangsa Hindia Belanda dipersatukan bukan oleh kesamaan agama, etnik atau hubungan darah, akan tetapi, oleh kesamaan pengalaman sebagai “orang terperintah”. Dalam hal ini adalah bangsa Hindia Belanda sebagai bangsa yang dijajah yang merupakan cikal bakal bangsa Indonesia. Berangkat dari kesamaan tersebut juga mendorong lahirnya zaman pergerakan nasional sebelum sejarah mencatat sebagai era kebangkitan nasional.

Tirto Adhi Soerjo berpendapat; bahwa penjajahan dapat eksis karena feodalisme dan penguasaan sumber - sumber ekonomi oleh perusahaan Belanda saat itu adalah karena lemahnya kontrol kaum priyayi. Dalam kebudayaan Jawa, istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. Priyayi adalah lapisan masyarakat yang kedudukannya dianggap terhormat, misalnya golongan pegawai negeri (S.Wojowasito, 1999). 

Pada 1906, dengan usahanya yang begitu gigih, sebuah organisasi yang mempunyai wawasan nasionalisme pun terbentuk. Cita-cita untuk mempersatukan bangsa termanifestasikan dalam perhimpunan Sarekat Prijaji. Namun, harapan untuk menyatukan bangsanya lewat perhimpunan Sarekat Prijaji ternyata berakhir dengan kegagalan. Kemudian, pada 27 Maret 1909, di rumah Tirto Adhi Soerjo, di Bogor, terjadi pertemuan untuk pembentukan sebuah organisasi baru yang diprakarsai Tirto Adhi Soerjo dan berdirilah Sarikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam. Kegiatan utama Sarekat Islam adalah sebagai organisasi yang berdiri di antara rakyat dan pemerintah. Pemerintah Hindia Belanda pun siap menampung keluhan-keluhan yang diajukan Sarekat Islam (Robert van Niel, 2009). 

Tidak ada yang bisa menepis, Tirto Adhi Soerjo adalah pelopor beberapa gerakan politik di akhir abad 19 sampai awal abad 20, antara lain; gerakan politik arsip, gerakan feminisme, dan gerakan pers nasional. Gerakan politik melawan kekuasaan antara lain gerakan politik arsip, yaitu diawali dengan adanya Skandal Donner dan Kasus Tirto Adhi Soerjo kontra A. Simon. Gerakan feminisme ditunjukkan dengan menunjukkan bagaimana Tirto Adhi Soerjo mendukung pergerakan Kartini dan Dewi Sartika terakhir adalah gerakan pers nasional, antara lain dengan berdirinya Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia. 

(Sumber : Dharwis Widya Utama Yacob & Firdaus Syam. 2016. Gerakan Politik Tirto Adhi Soerjo. Jurnal Kajian Politik dan Masalah Pembangunan. Vol. 12(01): 1749-1756)


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional

0 komentar:

Posting Komentar